The Business Watch Indonesia :: fair-biz.org
Peta Situs Hubungi Kami
   Halaman Utama
   Tentang Kami
   Berita & Artikel
     Berita
     Artikel
   Publikasi
   Pencarian
  Kata Kunci:
   

  Cari di:
BWI
     
Google

   Links
   Jajak Pendapat
Per 1 Januari 2010 kesepakatan perdagangan bebas antara China-Asean atau China Asean Free Trade Agreement (CAFTA) mulai diberlakukan. Banyak pihak merasa belum siap menghadapi serbuan produk-produk China yang dapat mematikan produk Indonesia. Menurut Anda

Eksportir
Buruh
UKM
Konsumen
Pemerintah

Lihat Hasil
Our office will close from Thursday, 9 th September 2010.The office will resume on Tuesday, 14 th September 2010.
Bahasa Indonesia
English

:: Jadwal Kegiatan
Sep 2010
MSSRKJS
29 30 31 1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 1 2
16 September
Hari Ozon Sedunia


Kegiatan bulan ini:
Tidak ada kegiatan pada bulan ini.
:: Member Login
Username

Password


Pendaftaran Anggota
:: CSR Review

Edisi X/Tahun 2/Mei-Juni 2007
[Download]
:: Kritik & Saran
Ronal
14 Agustus 2010
Semangat rasax klo panen lombok

Charles urbanus. N

14 Agustus 2010
Senangx gotong royong menebas buka lahan. Ini kegiatan...

Kritik & Saran Lainnya

Berita
'Terapkan SNI produk kakao'

Penulis: Bisnis Indonesia
Sumber: Bisnis Indonesia, 01-02-2010

JAKARTA: Pemerintah diminta mempercepat penerapan standar nasional Indonesia (SNI) produk kakao olahan dan memberikan kemudahan akses permodalan guna membendung banjirnya produk dari Malaysia, Singapura, dan China.

 

"Kami telah menerima rancangan SNI dari Badan Standardisasi Nasional pekan ini. Kami harapkan SNI produk kakao olahan segera diterapkan dari rencana Mei tahun ini," ungkap Zulhefi Sikumbang, Sekjen Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo), pekan lalu.

 

Namun, imbuhnya, penerapan SNI merupakan salah satu cara untuk membatasi produk impor setelah penerapan perdagangan bebas Asean-China (ACFTA). Pemerintah juga harus memberikan kemudahan meningkatkan modal dengan penetapan suku bunga kredit di bawah 10%.

 

Dia menjelaskan dengan SNI wajib produk impor harus sesuai dengan standar di Indonesia, tetapi itu hanya membatasi sesaat secara administratif. Hal itu karena umumnya produk kakao olahan, terutama tepung (cocoa powder) punya kualitas yang bagus.

 

Sebaliknya, dia mengharapkan industri pengolahan kakao juga harus siap menerapkan SNI. Jika tidak, sambungnya, akan menjadi bumerang, terutama industri skala kecil.

 

Dia menjelaskan penguatan modal sangat diperlukan karena faktanya modal industri pengolahan kakao tergerus sekitar 30%. Dalam hal ini, ungkapnya, pemerintah perlu membentuk lembaga pembiayaan agribisnis, di luar bank konvensional.

 

Zulhefi tidak dapat mengukur seberapa besar keuntungan ekonomi dari penerapan SNI produk kakao olahan.

 

Namun, jika itu tidak diterapkan plus kemudahan akses permodalan produk impor bisa naik dua kali dalam setahun penerapan ACFTA.

 

Saat ini, sambungnya, impor tepung kakao sekitar 6.000 ton per tahun dari total kebutuhan industri sekitar 15.000 ton-20.000 ton per tahun.

 

Sudah terlambat

 

Sementara itu, Piter Jasman, Ketua Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI) menilai pemerintah terlambat menerapkan SNI produk kakao olahan. Semestinya, SNI sudah diterapkan pada November 2009 atau sebelum CAFTA berlaku efektif 1 Januari 2010.

 

"Lebih baik lagi, semestinya SNI sudah diterapkan 4-5 tahun lalu. Tidak hanya produk olahan, biji kakao juga perlu diberlakukan SNI. Jadi, dari hulu sampai hilir punya daya saing," ungkapnya.

 

Dia menjelaskan AIKI telah meminta Menteri Perdagangan untuk menunda memasukkan produk kakao olahan dalam daftar CAFTA, tetapi tidak dipenuhi.

 

Dia mengungkapkan impor tepung kakao sekitar 8.000 ton per tahun dari kebutuhan industri lokal sekitar 30.000 per tahun.

 

Selain SNI, sambungnya, Piter juga mengharapkan industri dibantu permodalan karena sekitar 50% industri pengolahan kakao kolaps


"Kami juga mengharapkan untuk jangka pendek ini PTPN yang mampu menghasilkan kakao fermentasi tidak hanya mengekspor biji kakao. PTPN bisa membantu industri pengolahan lokal memasok kakao fermentasi," ungkapnya.

web.bisnis.com

Berita Lainnya
Unilever berdayakan perempuan petani teh
JAKARTA: PT Unilever Indonesia Tbk terus melanjutkan program pemberdayaan petani dengan membina dan mendukung pemberdayaan sekitar 589 perempuan petani dan pemetik teh di Kecamatan Kaliboja, Pekalongan, Jawa Tengah. Program yang digelar dalam...
Newmont siapkan dana comdev Rp352 miliar
JAKARTA: PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) siap mengucurkan dana sebesar Rp352,07 miliar untuk proyek pembangunan dan pengembangan masyarakat (comdev) di Kabupaten Sumbawa Barat dan Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Manajer Senior Hubungan...
72,5 Juta Hektar Harus Dilestarikan
Jakarta, Kompas - Kementerian Lingkungan Hidup menyatakan, 72,5 juta hektar hutan harus dipertahankan dari pembalakan dan konversi. Areal yang harus dipertahankan itu luasnya lebih dari separuh luasan hutan Indonesia yang mencapai 133,8 juta hektar. Deputi...
Mars Symbioscience rilis indikator sertifikasi kakao
JAKARTA (Bisnis.com): PT Mars Symbioscience, produsen pengolahan kakao di Sulawesi Selatan, bersama dengan Business Watch Indonesia (BWI), Rainforest Alliance dan UTZ meluncurkan indikator nasional untuk kriteria sertifikasi kakao yang berkelanjutan.Presiden...
Greenpeace dorong gerakan tanam sawit lestari
JAKARTA: Pemerintah mengungkapkan Greenpeace akan membantu pemerintah untuk mengampanyekan perusahaan sawit yang telah menerapkan cara menanam sawit lestari. Dirjen Perkebunan Achmad Mangga Barani menyatakan pada pertemuan antara Menteri Pertanian dan Greenpeace...
Dilema biji kakao & esensi berklaster
Pro dan kontra implementasi bea keluar atas biji kakao masih berlanjut. Protes dan dukungan masih terus mengalir. Sudah jelas, ada dua kubu berbeda pandangan. Eksportir jelas menolak mentah-mentah kebijakan ini. Di kubu lain, industri mendukung sepenuhnya. Dari...
The Business Watch Indonesia
Potrowanen RT 04 / RW 02
Donohudan, Ngemplak
Boyolali 57375
Indonesia
Tel. & Fax. +62-(0)271-7653806
Email. bwi@watchbusiness.org
Jika anda ingin memberi komentar atau saran, mohon hubungi admin@fair-biz.org
Situs ini dikembangkan oleh Duwa Webmedia Solutions